| Trilogi Rindu Batu | | |
merintih sendiri kepada sisa kini
yang sudah bekas tak hilang lekas
meski logika hendak bergegas
sampai entah adamu, jua pula padaku
rasa malas baur kecut
lepas kamu selayak pecut
cerita sudah ingin sampai sini, belum lagi aku ingin pergi
seperti jejak air pada batu kali
kasih, padamu sampai entah aku berkeras diri.
(Bagian 2)
Boleh jadi langit meruntuh, ketika malam pekat menjadi sayat, kepada
serpihan nyeri kalbu, dan bidadari-bidadari hanya dongeng yang menjaga
lelapku.
Biar saja apa ada, didalam langit yang runtuh dan tidur penatku,
kujaga kamu tak ujung kutau.
(Bagian 3)
Selisih waktu jadi benalu
manakala keramaian begitu hening
dan sunyi itu tak mau diam dalam bergeming
sampai payah aku tak mau goyah
kamu cuma kamu-dia cuma dia !
picisan ini betapa abadi
untuknya, kubuat dongeng cinderlela yang kuakhiri sendiri.
mawar ungu
Seperti jejak air pada batu kali
merintih sendiri kepada sisa kini
yang sudah bekas tak hilang lekas
meski logika hendak bergegas
sampai entah adamu, jua pula padaku
rasa malas baur kecut
lepas kamu selayak pecut
cerita sudah ingin sampai sini, belum lagi aku ingin pergi
seperti jejak air pada batu kali
kasih, padamu sampai entah aku berkeras diri.
(Bagian 2)
Boleh jadi langit meruntuh, ketika malam pekat menjadi sayat, kepada
serpihan nyeri kalbu, dan bidadari-bidadari hanya dongeng yang menjaga
lelapku.
Biar saja apa ada, didalam langit yang runtuh dan tidur penatku,
kujaga kamu tak ujung kutau.
(Bagian 3)
Selisih waktu jadi benalu
manakala keramaian begitu hening
dan sunyi itu tak mau diam dalam bergeming
sampai payah aku tak mau goyah
kamu cuma kamu-dia cuma dia !
picisan ini betapa abadi
untuknya, kubuat dongeng cinderlela yang kuakhiri sendiri.
| KERUDUNG MALAM | | |
| | |
| | |
| Kerudung malam pemenjara sebutir nafas bara di bakul suara-suara berduri. Kembang perangkap bermula saat tatap awal di mahligai pesta rumput bahasa. Cadar pelapis rembulan – diatas karpet bebatuan rekat arang – mengoyak tabir kerudung malam. Sebutir nafas di bara haturkan malunya – yang berapi dibawah pundi ranting lingga – kepada helai emas guru. Cuaca tak bersedia ditenung kedamaian merana. Akan terhitung jari: prahara bintang bertilikan. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar